Kain Tenun Sikka Maumere

Tenun ikat Sikka diproduksi di hampir seluruh desa dan kecamatan yang ada di Maumere, desa-desa yang terkenal tenun ikatnya adalah: Heopuat, Hewokloang, Watublapi, Bola, Nele, Koting, Nita, dan Sikka. Diperkirakan ada 1000 pengrajin tenun ikat, baik untuk utang, lipa maupun prenggi
Kerajinan yang hingga sekarang terus hidup di Sikka adalah kerajinan tenun, selain karena fungsinya sebagai pakaian sehari-hari, kain tenun juga bagian dari adat budaya masyarakat Sikka, seperti mas kawin (belis) dan upacara-upacara adat orang Sikka.
Kain tenun biasa dipakai untuk sarung perempuan (utang), sarung pria (lipa) dan ikat kepala (lensu). Psan moral edukatif tentang kain tenun dalam adat budaya Sikka adalah Du’a utan(g)ling labu welin(g) “kain sarung dan baju setiap wanita haruslah bernilai, berharga”.
Warna kain tenun didominasi oleh warna coklat tua dan hitam, namun ada juga varian warna biru atau merah. Pewarna kain tenun menggunakan pewarna alami dari akar mengkudu (bur/buke) dan tarung (tarum hitam) yang diberi ramuan koja gelo.
Kain ditenun diikat dengan susunan/design hurang(g)-heren(g) ditambah motif simbol-simbol huran(g)-kelan(g) seperti: dala mawarani: bintang kejora, agi pelikano: burung suci pelikan,jarang atabiang: pasangan manusia berkuda, koraseng doberadu: manusia bagai pasangan ayam, naga lalang: ular naga,ruha: rusa, patola: suluran kembang-pengaruh India, dsb.

Motif kain tenun juga mempunyai arti simbolik seperti utang moko: untuk upacara
perladangan, utang breke: upacara tolak bala, utang jarang atabi’ang: upacara kematian,utang merak: pakaian pengantin perempuan, utang mitang: motif untuk orang tua, utang wenda: motif hidup bahagia, utang rempe sikka: hidup rukun, utang mawarani: bintang kejora,utang sesa we’or: buat pengantin perlambang burung murai berpasangan.