Sejarah Pulau Flores

pulau floresSebelum kapal pertama tiba, orang-orang flores tinggal di desa yang tersebar masing-masing suku dengan struktur dan tradisi sosialnya sendiri. Beberapa wilayah pesisir ditempati oleh orang makasar dan bugis dari Sulawesi Selatan yang memperdagangkan gading emas dan gajah untuk kayu manis, katun dan barang lainnya. Mereka juga sering menyerang flores untuk perbudakan. Pada abad ke-15 sampai ke-16 flores timur diperintah oleh kaisar ternate dari Maluku, sedangkan bagian barat berada di tangan kesultanan Sumbawa dan Sulawesi.
Sekitar tahun 1570, orang-orang Portugis datang ke flores, untuk membeli rempah – rempah. Mereka membawa budaya katolik yang kini menjadi agama utama Flores. Ibu kota pelabuhan waktu itu adalah kota pelabuhan Larantuka. Pasukan Portugis, pelaut dan pedagang menikahi wanita lokal sehingga populasinya segera bercampur aduk. Keturunan mereka menyebut diri mereka sebagai orang Larantuka. Mereka memiliki pengaruh besar dan menguasai sebagian besar perdagangan lokal, terutama kayu cendana yang menguntungkan dari timor.
Belanda yang tiba setelah Portugis tapi segera menguasai sebagian besar wilayah Indonesia, mereka ingin menyingkirkan Portugis dengan baik. Setelah lama berjuang, orang-orang Portugis akhirnya dikalahkan dan mereka menjual wilayah mereka yang tersisa termasuk Larantuka, akhirnya mereka mundur ke timor timur pada tahun 1769. Belanda akhirnya menguasai flores dan memperluas pengaruhnya di bagian lain di Indonesia dan menetapkan peraturan lokal untuk mengatur Flores. Baru di abad 20 mereka berani meningkatkan profitabilitas flores dan mengambil alih peraturan. Ini diikuti oleh periode kerusuhan dan pada tahun 1907 pemberontakan suku ditekan dengan operasi militer berdarah.
Selama perang dunia II, flores diduduki secara singkat oleh orang Jepang dari tahun 1942-1945. Indonesia merdeka di bawah pemimpin nasionalis dan pertama kali Soekarno pada tahun 1949, Flores menjadi bagian dari negara baru. Pada tahun 1966, setelah percobaan kudeta yang menyebabkan pembantaian ribuan komunis oleh jenderal Soeharto dan pasukannya, soekarno menyerahkan pemerintah kepada Soeharto. Sebuah kediktatoran militer selama 31 tahun menyusul. Di bawah ekonomi rezim orde baru yang dipimpin Soeharto berkembang, namun gerakan melawan oposisi dan kebebasan tertindas dan korupsi menajalela.